Tak terasa waktu terus berlalu dan kita sampai di penghujung tahun. Malam
pergantian tahun baru masehi sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan.
Tidak saja dibelahan bumi lain seperti di Eropa dan Amerika, masyarakat
kita juga sibuk dan sangat menanti-nantikan malam pergantian tahun
tersebut.
Berbeda halnya dengan pergantian tahun baru hijriah, banyak masyarakat
yang tidak merayakannya, bahkan sekadar tahu saja mereka mungkin tidak.
Memang perayaan tahun baru hijriah tidak dituntut untuk merayakannya
dengan menyalakan kembang api, meniup terompet, ataupun kumpul di pusat
kota dengan tujuan yang tidak jelas. Tetapi lebih kepada bagaimana
memaknainya.
Kita lebih dituntut untuk merefleksikan apa yang telah kita lakukan pada
tahun sebelumnya, dan diharapkan lebih baik pada tahun selanjutnya.
Sungguh ironis, hal tersebut terjadi di bumi Aceh yang mayoritas
penduduknya beragama Islam. Masyarakat lebih mengenal dan menantikan
detik-detik pergantian tahun baru masehi.
Melihat fenomena tersebut, penulis merasa tergugah untuk sedikit
mengupas sejarah dan pandangan Islam terhadap tahun baru masehi.
<sejarah dan pandangan Islam terhadap tahun baru masehi>>